Welcome to I'm 26 blog

im

Rabu, 18 Januari 2012

KULIHAT SANG GARUDA TERLUKA

(Edisi Revisi, Karya Ikmal Maulana)
Untuk teman-temanku Generasi Muda Indonesia

Garuda yang dulu gagah perkasa
Kini menjadi lemah tak berdaya
Garuda yang dulu dihormati
Kini hanya menjadi simbol yang tak berarti

Simbol dari kehancuran negeri
Simbol dari keadilan yang tak bisa ditegakan
Simbol dari hukum yang bisa dibeli dengan uang
Serta simbol dari Negara yang tak pernah bisa lepas dari lingkaran setan KEMISKINAN

KULIHAT SANG GARUDA TERLUKA
Terluka karena melihat generasi mudanya hancur
Hancur moral dan kepribadian
Generasi muda yang seharusnya jadi penerus bangsa
Kini malah terjebak dalam paradigma yang menyesatkan
Paradigma yang membuat mereka lebih suka malas-malasan, tawuran, mabuk-mabukan, serta main perempuan

KULIHAT SANG GARUDA TERLUKA
Terluka karena melihat keadilan yang tak bisa ditegakan
Terluka karena melihat hukum yang bisa dibeli dengan uang
Terluka karena melihat orang yang baik dan benar dianggap salah
Bahkan dipenjarakan, hanya karena mereka sering menentang kekuasaan
Sedangkan …
Para koruptor yang senantiasa menggerogoti tubuh sang Garuda,
Di biarkan bebas, lepas
Tak tersentuh hukum sama sekali

KULIHAT SANG GARUDA TERLUKA
Terluka karena melihat rakyatnya sengsara
Terluka karena melihat rakyatnya menderita
Sedangkan…
Para peminpinnya hidup mewah
Seakan tak peduli nasib rakyatnya yang makan dari sisa mengais sampah

Tapi…
Kita juga harus ingat
Bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum,
Kecuali kaum itu yang mengubahnya
Maka…
Lakukanlah perubahan
Bersihkan Indonesia dari lautan korupsi
Bebaskan Indonesia dari lingkaran setan kemiskinan
Buat Sang Garuda terbang tinggi
Agar Ibu Pertiwi tersenyum kembali…



Catatan : Puisi ini terinspirasi dari puisi “Negeri Para Bedebah “ karya Adhie Massardi. Sehingga terdapat beberapa kesamaan antara puisi “ Kulihat Sang Garuda Terluka “ dengan puisi “Negeri Para Bedebah “. Beberapa kesamaan tersebut antar lain, di kedua puisi tersebut terdapat bait “…pemimpinnya hidup mewah ” dan “ … rakyatnya makan dari mengais sampah “ , “Orang baik dan… dianggap salah “ ,” Dipenjarakan… “ , serta terdapat bait “ Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum “ serta “Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya “.
Oleh karena itu, Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Adhie Massardi karena berkat karya beliau yang berjudul “Negeri Para Bedebah “ ini, Saya bisa membuat puisi yang sederhana ini.
Puisi ini merupakan metamorphosis serta penggabungan dari puisi yang berjudul “Kehancuran di Negeriku Indonesia “ serta puisi yang berjudul “ Kapankah Sang Garuda Terbang Kembali ” yang diciptakan penyair sekitar satu tahun yang lalu, kemudian kedua puisi itu digabungkan dan akhirnya lahir puisi “ Kulihat Sang Garuda Terluka “ ini.

Kritik dan Saran dapat dikirimkan ke: maulana_ikmal26@yahoo.co.idv

1 komentar:

  1. I like your poetri

    puisi kamu bagus bung...
    cocok tuh jadi MENBUDPAR...
    HEHE amin

    BalasHapus